Simak Perbedaan Hyundai Kona Electric dengan Versi Peminum Bensin

Simak Perbedaan Hyundai Kona Electric dengan Versi Peminum Bensin
Gambar
Review Pengguna

Nama Hyundai Kona mungkin tidak asing di telinga. Merupakan wakil pabrikan berlogo H miring di segmen crossover kompak. Nah, baru saja datang saudaranya yang berjantung elektris: Kona Electric. Mengingat keduanya memiliki kesamaan nama, mungkin timbul dugaan kalau perbedaannya sebatas jenis powertrain. Benarkah demikian? Simak dulu diferensiasi antara keduanya.

Harga

Diferensiasi paling utama jelas terkait harga. Perlu bayaran untuk sebuah teknologi canggih, tepatnya Rp 674,8 juta. Nyaris dua kali harga tipe Gasoline yang dibanderol Rp 389 atau 393 juta tergantung warna. Kendati jauh lebih tinggi, dari sudut pandang teknologi, Kona Electric tetaplah salah satu kontestan termurah di pasaran. Melirik tebusan Rp 600 jutaan, setidaknya ada sedikit ekspektasi lebih dari sebatas beda enjin.

Minimal sudah dipaketkan dengan berbagai layanan pembebas rasa khawatir. Misal gratis AC charger dan instalasi di rumah hingga 31 Desember ini. Lalu ada pula ragam garansi dan free service. Termasuk mobile charging gratis, bebas biaya perawatan, garansi standar, dan garansi baterai. Sebagai catatan, ada syarat dan ketentuan berlaku.

Tampak depan Kona dan Kona EV

Rancangan dan Dimensi

Wujud eksterior kedua anggota itu mungkin sekilas begitu mirip. Lantaran memang pada dasarnya mengusung dasar pahatan yang sama. Meski begitu, Kona Electric memiliki beberapa titik perbedaan guna mendukung fungsionalitasnya sebagai EV. Paling kentara terletak di fasad depan. Anda tidak akan menemukan rongga grille heksagonal, dibikin rata seakan terintegrasi bumper.

Baca juga: Hyundai Kona Electric Resmi Dipasarkan dengan Banderol Rp 674,8 juta, Begini Spesifikasinya

Ya,masih digambarkan grille lewat sayatan tipis meski tidak berperan langsung sebagai jalur udara masuk. Di model EV, area moncong itu dimanfaatkan sebagai slot pengisian ulang daya baterai. Pun upaya ini kemungkinan besar memuluskan aliran udara di permukaan bodi mobil sehingga lebih efisien menembus udara. Sekaligus juga bikin rancangan terkesan futuristis nan sederhana. Di samping itu, ornamen cladding menyesuaikan gaya. Plastik hitam sepatbor tidak dilanjut ke mata bak kacamata renang.

Di sisi lain, tingkat diferensiasi tidak sesignifikan fasad depan. Misal di samping, paling banter ditemukan pelek 17 inci bergaya streamline palang mengipas dan agak tertutup. Sementara di belakang, gaya nyentriknya tetap hadir sebagaimana versi konvensional: plastik hitam sepatbor berlanjut ke area lampu. Permainan lampu dan desain bumper menjadi setitik alterasi dari basis peminum bensin.

Tampak belakang Kona dan Kona EV

Rancangan khusus ini berimbas juga pada dimensi eksterior. Kona Electric memiliki panjang 4.180 mm, lebar 1.800 mm, dengan tinggi 1.555 mm. Tidak terlalu kentara. Sebagai pembanding, tipe bensin diukur 4.165 x 1.800 x 1.565 mm (PxLxT).

Urusan fitur eksterior mungkin kurang lebih serupa. Di sektor penerangan keduanya telah menganut sumber cahaya utama dioda dengan fitur Auto Light Control. Termasuk pula ditugaskan sebagai DRL dan lampu kombinasi belakang. Namun, satu yang hadir spesifik di varian bertenaga listrik adalah sunroof.

Fitur Kabin

Mengintip kabin, Kona EV tampak lebih spesial dan futuristis. Well, tak salah kalau menilai setengah bagian dasbor ke atas terlihat mirip. Tapi ketika membandingkan area tengah kabin, versi listrik tawarkan sensasi tersendiri lewat konsol yang tinggi. Tidak ada tuas transmisi apalagi tarikan rem tangan. Mayoritas komando, termasuk girboks, terlaksana melalui seperangkat tombol. Suarakan nuansa canggih.

interior hyundai kona

Selain eksistensi sunroof, kelebihan crossover kompak seharga Rp 600 jutaan itu terletak di kabin. Adalah pengaturan bangku elektris, mungkin diaplikasikan demi menyesuaikan ekspektasi harga. Tapi bicara soal fitur pendukung kenyamanan lain boleh dibilang keduanya berimbang. Misal sistem multimedia 7 inci dengan konektivitas Bluetooth menjadi pusat hiburan dalam kabin. Lalu, material bangku juga sama-sama mengenakan leather.

Jenis Pemacu

Tidak perlu ditanyakan lagi, jenis pemacu sudah jelas-jelas berbeda. Begitu pula output-nya. Di balik bonnet Kona Gasoline, Hyundai menyematkan jantung empat silinder Nu 2,0 liter MPI. Ia sanggup memuntahkan tenaga 149 PS di 6.200 rpm dengan torsi puncak 179 Nm di 4.500 rpm. Seluruh putaran kemudian diterjemahkan ke roda depan via girboks otomatis enam percepatan.

Lain cerita di Kona Electric. Ia menggendong sepaket baterai lithium-ion polymer 39,2 kWh dengan Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM). Sebagaimana mobil listrik pada umumnya, dipastikan memiliki bobot lebih berat. Tapi semua itu boleh jadi terbayarkan oleh potensinya. Bayangkan saja, total momen puntir 395 Nm dapat ditendang dengan instan ke roda depan meski tenaganya tidak sebesar peminum bensin – hanya 136 PS.

Kona Electric interior

Safety

Hyundai telah menetapkan standar tinggi menyoal fitur keselamatan Kona. Standarnya saja sudah dibekali airbag enam titik. Belum lagi ragam perlindungan berkendara seperti Anti-lock Braking System (ABS), Electronic Stability Control (ESC), Hill Assist Control (HAC), dan Tyre Pressure Monitoring System (TPMS). Agak disayangkan versi seharga Rp 600 jutaan tidak dituangkan suatu nilai lebih dari itu. (Krm/Tom)

Baca juga: Mobil Listrik Termurah Meluncur untuk Publik Indonesia, Hyundai Ioniq Dijual Rp 624,8 Juta

Komparasi Hyundai Kona vs Hyundai Kona Electric

Bandingkan & Rekomendasi

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store