• Wishlist

Pakai Mobil Listrik Mengurangi Risiko Penyebaran Covid-19, Bagaimana Bisa?

Pakai Mobil Listrik Mengurangi Risiko Penyebaran Covid-19, Bagaimana Bisa?

Kendaraan bermotor listrik tak hanya menawarkan solusi energi. Penggunaan EV disinyalir dapat mengurangi risiko penularan virus ketimbang mobil konvensional. Seperti dilansir dari InsideEV, pengoperasian mobil listrik dinilai lebih bersih secara fisik terutama soal pengisian ulang energi.


Belakangan ini kemungkinan besar orang-orang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kebersihan. Tujuan utama tak lain adalah menghindari penyebaran virus Corona yang masif dan cepat. Nah, berdasarkan studi di AS, selang pengisian bahan bakar dinilai sebagai salah satu permukaan paling kotor. Bahkan lebih berkuman ketimbang toilet di rumah.


Ilustrasi pengisian daya mobil listrik


Di samping selang, banyak permukaan berkuman lain pada stasiun pengisian bahan bakar. Misal pada keypad di pompa bensin. Bisa jadi sama kotornya. Selain itu juga pegangan pintu, baik itu pintu masuk, toilet, atau lemari pendingin dinilai kotor. Wajar saja lantaran tidak satu atau dua orang yang menyentuh. Kemudahan dan kecepatan pengisian bahan bakar berarti semakin banyak pergantian pemakai. Di masa seperti ini berdampak pada peningkatan probabilitas transfer virus.


Penggunaan KBL jelas meminimalisir risiko. Alasan sederhana adalah seringkali pengguna mobil listrik mengisi sendiri baterai di rumah. Sama seperti pandangan bahwa ‘makanan rumah’ lebih sehat ketimbang beli dari luar. Pemilik bertanggung jawab atas kebersihan peralatan pengisian baterai. Jika merasa perlu, tinggal lap charger dengan tisu pembersih agar menjaga sanitasi. Pun pemakainya paling hanya satu atau dua individu, tidak berbagi dengan orang asing yang entah sedang sakit atau membawa penyakit.


Baca Juga: Lamborghini, Ferrari dan Maserati Tutup Pabriknya Sementara Akibat Corona


Sama juga ketika melakukan pengisian di tempat umum. Jumlah pengguna fasilitas jauh lebih sedikit ketimbang SPBU. Dapat dilihat dari jumlah pengguna EV, populasi belum sebanyak mobil konvensional. Begitupun kala menimbang cara pengisian. Ambil contoh rata-rata stasiun supercharging Tesla yang memakan waktu 45-50 menit di pusat kota. Kemungkinan perpindahan virus berarti lebih kecil akibat interval tiap pengisian. Tidak seperti saat mengisi BBM yang dapat terselesaikan kurang dari 5 menit lalu berganti dengan konsumen selanjutnya.


Pengisian listrik Porsche Taycan


Meski begitu, kotor dan ‘jorok’ bukan berarti harus langsung beralih ke EV. Saat ini teknologi tentu belum sepraktis motor bakar sehingga menciptakan keuntungan bagi penggunaan KBL. Lain cerita bila pandemi sejenis Corona datang di masa penerapan teknologi EV sudah sangat maju.


Tindakan preventif dapat diambil tanpa perlu repot hijrah ke KBL. Misal menggunakan sarung tangan sekali pakai saat pengisian, dan langsung dibuang setelah bensin sudah penuh. Atau menyemprotkan cairan desinfektan ke peralatan walau bisa jadi pemilik stasiun tidak suka. Paling mungkin buru-buru mencuci tangan setelah usai mengisi.


Penggunaan EV dari sudut pandang penyebaran virus Corona tampak menguntungkan di belahan dunia lain. Di Indonesia belum tentu karena mayoritas SPBU kita masih dilayani oleh petugas dari membuka tangki sampai kembali ditutup. (Krm/Tom)


Sumber: Insideevs


Baca Juga: Sejumlah Produsen Mobil di Indonesia Tetap Beroperasi Meski Covid-19 Mewabah