• Wishlist

Mengetahui Rancangan Mobil Listrik yang Membuatnya Aman dari Tabrakan

Mengetahui Rancangan Mobil Listrik yang Membuatnya Aman dari Tabrakan

Kendaraan Bermotor Listrik tentu memiliki perbedaan rancangan mendasar. Bukan hanya diakibatkan beda peletakan komponen pemacu daya dan cara penyimpanan energi, ada hal lebih krusial terkait keselamatan. Bertujuan jelas, agar Electric Vehicle (EV) tidak lebih berbahaya ketimbang model konvensional.


Baik EV atau mobil konvensional, keduanya memanfaatkan energi untuk dapat beroperasi. Mau itu bersumber dari bensin atau baterai, kadar energi untuk mengoperasikan sebuah kendaraan tidaklah kecil. Berdasarkan perhitungan Environmental Protection Agency (EPA), konten energi satu gallon (3,78541 liter) bensin dapat disetarakan dengan baterai 33,7 kWh. Sedikit lebih kecil dari kapasitas Hyundai Ioniq EV. Namun pada intinya, energi dapat dilepaskan dan mencipta panas sewaktu terjadi kecelakaan.


Meski begitu, baterai sebesar itu bisa jadi lebih berbahaya ketimbang bensin terbakar. Lebih kompleks sebab kebakaran diakibatkan oleh thermal runaway – panas meciptakan kerusakan yang berdampak mengeluarkan lebih banyak panas. Pun sulit dipadamkan bila terbakar lantaran baterai tercipta dari ribuan sel, bisa dipastikan masih ada bagian aktif mengandung energi. Jika hal ini terjadi, thermal runaway akan terus berlangsung sampai energi baterai benar-benar habis.


Guna meminimalisir kerusakan baterai saat tabrakan, pabrikan memiliki cara masing-masing. Casing akan menciptakan ruang aman bagi baterai itu sendiri. Di samping itu, pengalihan energi hantaman juga memainkan peran penting. Ambil contoh Polestar – jenama EV kongsian antara Volvo dan Geely – mengembangkan rancang bangun yang melindungi baterai.


Baca Juga: Wuling Motors Indonesia Terus Lakukan Studi Terkait Pengembangan EV


Pertama ada ‘SPOC Block’ (Severe Partial Offset Crash) pada model 2 EV. SPOC ini mengandalkan dua blok aluminium. Terletak di sisi samping sekat antara kompartemen mesin dengan area penumpang (bulkhead). Komponen bertugas untuk mencegah roda menghantam langsung kompartemen baterai bila terjadi kecelakaan.


side airbag


Sebagai tambahan, mobil ini juga memiliki Front Lower Load Path (FLLP) anyar. FLLP merupakan bagian rancangan struktur sehingga gaya-gaya dari tabrakan frontal dapat dialihkan. Bertujuan agar penumpang, dan dalam kasus ini baterai, terlindungi dengan baik.


Hal berbeda lain pada mobil listrik adalah tegangan tinggi karena kebanyakan EV bekerja dengan 400 V. Bahkan Porsche Taycan menjadi EV pertama dengan sistem 800 V. Kebocoran arus listrik ini dapat berakibat fatal, entah itu bagi penumpang maupun tim penyelamat. Untuk itu, baterai harus segera diputuskan langsung dari sumber kalau celaka tak terelakkan.


Bukan hal baru, konsep pemutusan arus sudah eksis selama puluhan tahun di dunia balap. Menjadi bagian dari regulasi, bertujuan menghindari percikan api menyulut tumpahan bensin. Seluruh mobil balap on-road sampai reli harus disematkan sistem pemutus baterai manual maupun elektronik.


Letak perbedaan hanya di metode pemutusan arus, kalau di EV memanfaatkan ledakan dari Pyrofuse. Detonasi mini akan melumpuhkan kabel bertegangan tinggi di dekatnya sehingga muatan listrik tidak bocor ke bodi atau elemen konduktor lain. Meminimalisir risiko tersengat. Bosch mengenalkan alat serupa tahun lalu, diaktifkan oleh chip silicon mengikuti respons sistem airbag.


Upaya perlindungan sisi samping tidak kalah penting. Serudukan dari samping merupakan salah satu jenis kecelakaan paling berbahaya. Pintu yang menyerap energi disokong struktur sill dan pilar kuat menjadi tameng utama. Selain itu, airbag di tirai dan kursi dimanfaatkan untuk melindungi penumpang. Seperti Polestar 2, ia dibekali kantung udara di bagian samping kursi depan agar melindungi organ tubuh penumpang. (Krm/Odi)


Sumber: Autocar, USNews


Baca Juga: Honda Gandeng General Motors Bikin Dua Mobil Elektrifikasi