Mendag Ingin Masyarakat Australia Pakai Toyota Innova dan Mitsubishi Xpander Bikinan RI

Mendag Ingin Masyarakat Australia Pakai Toyota Innova dan Mitsubishi Xpander Bikinan RI

Bisnis ekspor otomotif tidak selalu mulus. Kemarin pabrikan mobil di Indonesia harus hadapi ganjalan safeguard Filipina. Namun masih ada peluang di negara lain. Misal perjanjian kerja bareng Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Kesepakatan itu dinilai mampu menarik kans market. Yakni demi mengungkit pasar ekspor kendaraan menuju Benua Hijau. Bahkan Mendag ingin Toyota Innova dan Xpander dikapalkan, supaya dipakai masyarakat sana.

"Indonesia-Australia CEPA bisa dimanfaatkan untuk menggenjot orang Australia agar menggunakan Toyota Kijang Innova dan Mitsubishi Xpander buatan kita," ucap Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, di konferensi pers Trade Outlook 2021, yang dilangsungkan secara virtual di kanal YouTube Kementerian Perdagangan (Kemendag).

ekspor Xpander

Ceruk market otomotif Australia masih belum tersentuh bagi manufaktur sini. Padahal Indonesia sebagai penghasil mobil terbesar ke-13 dunia. Kalau melihat tren di sana, tak sedikit perusahaan kendaraan memutuskan untuk stop produksi atau tutup pabrik. Kemudian hanya berperan sebagai distributor atau menjual unit saja. Jadi sekitar 1,2 juta unit harus diimpor dari negara lain. Peluang ekspor ini, tentu saja harus ditangkap dengan baik oleh pemerintah.

Baca juga: Avanza Tergusur Sebagai Model Favorit, Toyota Masih Paling Laku Sepanjang 2020

Mereka berharap, pabrikan otomotif yang beroperasi di Tanah Air. Seperti Toyota, Mitsubishi, Suzuki dan Isuzu agar dapat melakukan ekspor ke Australia. Muhammad Lutfi menjelaskan, dengan adanya perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) bisa dimanfaatkan. Khususnya untuk pengapalan kendaraan roda empat serta bisa meningkatkan pemasukan kas negara.

Tapi Mendag mengakui, jika saat ini hal itu belum bisa dilakukan. Salah satu penyebabya ialah perbedaan standar antara Indonesia dan Australia. "Namun kita belum siap. Karena ada beberapa hal penting. Salah satunya, karena mobil yang diekspor merupakan standar kita. Dan tingkat environmental tidak sama dengan Australia," pungkas Lutfi.

Toyota Kijang Innova

Perjanjian ekonomi komprehensif IA-CEPA sebetulnya ditandatangani sejak 2019. Dengan kesepakatan itu, digadang sanggup membuka tambahan pasar kendaraan 1,2 juta unit sampai 1,5 juta unit hingga 2025. Guna memacu nilai ekspor manufaktur nasional. Kementerian Perindustrian mengaku semakin aktif mengajak pelaku industri. Yakni lebih agresif lagi membuka peluang pasar di negara-negara nontradisional. Di samping itu, perlunya perluasan atau diversifikasi produk ekspor yang diarahkan. Sehingga dapat menikmati fasilitas pembiayaan perdagangan luar.

Kemenperin yakin bila upaya itu terealisasi, sanggup mendongkrak penjualan mobil. Dari sinilah ekspor dipacu agar bisa berperan menjadi substitusi impor. Walau terdapat perbedaan standar. Mereka memastikan, kemampuan industri otomotif nasional saat ini telah kompetitif. Struktur manufaktur juga makin dalam dengan didukung banyaknya industri komponen di dalam negeri. Sehingga beberapa kendaraan yang diproduksi, punya tingkat kandungan lokalnya sangat tinggi. Bisa mencapai 75 persen sampai 94 persen.

Benefit IA-CEPA bagi Indonesia

Ada sejumlah benefit yang didapat. Pertama, produk Indonesia dikenakan tarif bea masuk nol persen di Australia. Berdasarkan permintaan khusus dari pemerintah, ekspor kendaraan listrik ke sana dibebaskan tarif masuk. Kemudian di bidang jasa dan investasi, Australia menerapkan kebijakan terbuka.

Lalu manfaat lain, Indonesia-Australia menyepakati pertukaran tenaga kerja terlatih (reciprocal skills exchange). Ini memungkinkan staf di lapis ketiga memiliki kualifikasi kemampuan yang sama. Kemudian mendapatkan pengalaman selama enam bulan di masing-masing negara. Kebijakan ini diklaim bisa meningkatkan kapasitas tenaga kerja RI di berbagai sektor utama. Saban tahun, mereka membuka kesempatan bagi 200 orang dari Indonesia untuk mengikuti pelatihan kerja setengah tahun. (Alx/Tom)

Sumber: YouTube Kemendag, Liputan6

Baca juga: Perluas Jaringan, Mitsubishi Motors Resmikan Diler Pertama di Papua