Masa Depan Diesel dan Bahan Bakar Solar di Indonesia

Masa Depan Diesel dan Bahan Bakar Solar di Indonesia

Saat banyak negara dan kota di dunia mulai meninggalkan mesin diesel, Indonesia punya rencana jangka panjang untuk tetap memakai mesin berbahan bakar solar. Indikasinya bisa dilihat dari roadmap rencana pemerintah, yang mulai mencanangkan penggunaan bahan bakar solar dengan campuran minyak sawit 30 persen (B30) pada 2020. Proyeksinya, B30 bakal bisa lebih sesuai kadar emisinya dengan standar emisi EURO 4, yang sudah mulai diberlakukan untuk kendaraan roda empat berbahan bakar bensin.

mesin pajero vs fortuner

Mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 41 Tahun 2018, saat ini masih berlaku bahan bakar campuran solar (cetane number 48) dengan biodiesel 20 persen atau biasa disebut B20. Rencananya, mulai 2019 dilakukan uji jalan untuk B30 sampai diimplementasikan pada 2020.

Agus Saptono, Kasibdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, menyampaikan pemerintah punya cita-cita menggunakan B30 pada 2020. Meski pada awalnya, B30 bukan didesain sesuai dengan Euro 4. "Kami kan mengikuti pola yang ada di Indonesia, B20 dan EURO 4 itu kan kebijakan dari luar. Jadi kami mencoba mensinkronkan itu pada akhirnya," papar Agus saat dijumpai di diskusi Forwot bertajuk Roadmap Kebijakan Biodiesel di Indonesia (27/11).

Meski begitu, masih belum ada putusan soal B30 yang sesuai standar Euro 4 karena pengujian tahun depan adalah B30 yang belum standar EURO 4. "Masih belum diputuskan, masih diskusi karena dalam waktu dekat 2019 kami melakukan pengujian. Sementara 2021 sudah mulai EURO 4-nya. Jadi ada pemikiran kenapa tidak sekalian saja, daripada tes lagi di waktu yang berbeda," ungkap Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika.

Menurut Putu, untuk mencapai biodiesel yang sesuai standar EURO 4, poinnya ada pada bahan bakar solarnya. Sedang dari bahan bakar nabati (BBN) dipastikan aman. "Jadi kalau dicampur, apalagi campuran BBN nya tinggi, fosil diesel yang misalnya EURO 3,6 bisa jadi EURO 4. Ini jadi tergantung pada itu, bukan BBN-nya. Jadi kita sudah sangat siap ke EURO 4 kalau pakai BBN," tukas Putu.

Peta rencana jangka panjang lagi, diharapkan Indonesia bisa menyentuh penggunaan biodiesel B100 yang kemudian disebut green fuel. Karena sudah 100 persen menggunakan bahan nabati tak lagi mencampur dengan bahan bakar fosil. "Green fuel ini energi masa depan. Ini sedang dikaji mendalam, bisa B100, 100 persen menggunakan bahan bakar nabati," ucap Agus.

Sementara Putu menyampaikan Indonesia berbeda dengan negara seperti di benua Eropa. Di sana, menurut Putu, permintaan diesel tinggi tapi suplainya yang kurang. "Kita itu sangat diberkahi dengan diesel, apalagi green diesel ke depan itu sangat memungkinkan. Gabungan green diesel dengan sistem (mobil) hybrid itu sangat memungkinkan untuk ke arah sana. Karena diesel banyak kelebihan-kelebihan dibandingkan bensin," tutup Putu. (Tom/Odi)

Baca Juga: Ini Pengaruh Minyak Solar B20 Terhadap Mesin Isuzu

GIIAS 2021

  • Yang Akan Datang

Video Mobil Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Mobil