Cengkeraman Bisnis Mobil Astra Mulai Melemah

Cengkeraman Bisnis Mobil Astra Mulai Melemah

Kinerja Astra International, induk sederet agen pemegang merek otomotif Indonesia, mulai melempem. Pangsa pasarnya kian tergerus arus kompetisi. Rivalnya kini mulai berdatangan, dengan produk apik plus harga relatif murah. Pangsa pasar (market share) Astra di industri otomotif terpangkas 8%. Bagi sang raksasa bisnis, jelas bukan angka kecil.

Baiklah, kita coba bedah sedikit laporan keuangan Astra. Sekadar menyegarkan kembali ingatan kita. Penjualan mobil secara nasional, sebetulnya meningkat 4% menjadi 554.000 unit pada paruh pertama 2018. Namun, belakangan penjualan mobil Astra turun 10% menjadi 268.000 unit. Hal ini dikarenakan meningkatnya kompetisi.

Contohnya, saat Mitsubishi Xpander menggempur segmen mobil sejuta umat. Toyota Avanza yang menjadi andalan Astra, sangat kewalahan. Penjualannya tersalip. Belum lagi Wuling yang menawarkan mobil murah di segmen itu. DFSK pun mulai ikut menyenggol pasar lewat Glory 580. Ini hanya gambaran kecil di segmen mobil keluarga, belum di pasar lainnya.

Singkat cerita, pangsa pasar Astra menurun 8%. Dulu bisa menguasai 56%, kini menjadi 48%. Padahal, Astra Grup sedikitnya meluncurkan 12 model baru dan empat model revamped selama periode ini. Sebetulnya mereka sudah paham kondisi pasar dan tak berpangku tangan. Namun realitanya tetap saja tergerus.

Meski begitu, laba bersih dari bisnis group otomotif bertengger di posisi Rp 4,2 triliun. Betul, sama dengan tahun lalu. Untunglah ada sokongan dari laba bersih penjualan sepeda motor. Bisnis komponen otomotifnya juga melebihi dari yang dapat diimbangi oleh penurunan laba bersih penjualan mobil.

Penjualan motor secara nasional meningkat 11% menjadi 3 juta unit. Sedangkan penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) di pasar domestik meningkat 11% menjadi 2,2 juta unit. AHM mengantongi pangsa pasar paling besar, 74%. Mereka merangsang pasar dengan meluncurkan empat model baru dan 11 model revamped selama periode ini. Hasilnya, pendapatan Honda melesat 15% menjadi Rp 33,9 triliun, dibanding periode sama tahun lalu Rp 29,3 triliun.

Kontribusi lainnya berasal dari laba bersih PT Astra Otoparts Tbk (AOP). Bisnis komponen meningkat 4% menjadi Rp206 miliar. Ini disebabkan oleh kenaikan pendapatan, dari naiknya kinerja penjualan pasar pabrikan otomotif (OEM/original equipment manufacturer) dan pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market).

“Sebagian besar bisnis Grup Astra memiliki kinerja yang baik pada semester pertama 2018. Untuk sisa tahun ini, Grup Astra berharap mendapatkan manfaat dari harga batu bara yang stabil. Meskipun, hasil kinerja diperkirakan terpengaruhi meningkatnya persaingan di pasar mobil dan permintaan di pasar motor,” jelas Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Astra International. (Alx/Odi)

Baca Juga: Sempat Bermasalah, Ekspor Otomotif Indonesia ke Vietnam Bergulir Kembali

  • Yang Akan Datang

Video Mobil Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Mobil