jakarta-selatan

Begini Cara Hitung Daya Angkut Maksimal pada Mobil

  • 18 Jun, 2019
  • 439 Kali Dilihat

Kendaraan pribadi punya daya angkut maksimal, demi keamanan berkendara. Batas pastinya, tertera di buku panduan. Sebab tiap mobil memiliki kapasitas angkut yang beragam. Masalahnya, tak sedikit pemakai mobil yang acuh tak acuh soal batas maksimal muatan. Selama masih ada ruang tersisa, kebanyakan bakal mengisi penuh dengan barang bawaan. Sebetulnya perilaku ini salah dan tidak dianjurkan.



Menurut Suparman, Kepala Bengkel Auto2000 Yos Sudarso, kondisi ini adalah persepsi yang fatal jika dilakukan. Perlu diingat, meski memiliki bagasi yang lapang, tiap mobil memiliki bobot maksimal yang tak boleh diabaikan. “Ini kebiasaan yang salah. Orang kerap memasukkan barang tanpa memperhatikan faktor kenyamanan selama perjalanan. Lebih parah lagi, muatan itu bikin bobot mobil over (kelebihan muatan). Justru bisa mengundang risiko saat perjalanan,” terangnya.


Ia mengambil contoh jenis MPV Toyota, Kijang Innova. Unit memiliki berat maksimum 2.130 kg dan berat kosong 1.525 kg. Dari kedua jumlah ini tinggal dikurangi saja. Jadi selisihnya seberat 605 kg. Inilah daya angkut atau daya muat yang boleh ditambah atau dimasukkan ke dalam mobil. Dan jumlah itu termasuk hitungan bobot semua penumpang yang Anda bawa.


“Bayangkan beban mobil bakal seperti apa. Apalagi ditambah mengangkut penumpang dan berjalan ratusan kilometer. Pemilik mobil wajib tahu. Sebelum membawa barang bawaan, harus memperhatikan payload dari kendaraan. Cara mengukurnya bisa melihat dari berat kosong dan maksimum mobil yang sudah tertera di buku manual tiap mobil,” imbuh dia.


Yaris TRD dengan roofrail tampak gagah


Pemilik mobil yang dilengkapi roof rail seperti jajaran SUV Toyota, bisa memanfaatkan bagian atap untuk menaruh barang bawaan. Tetapi, tetap ada aturan mainnya. Umumnya beban yang dianjurkan pada atap mobil tidak lebih dari 70-73 kg. Jika Anda tetap memaksakan, maka bisa membuat atap mengalami deformasi. Pengendalian mobil pun tak selincah kondisi normal.


Hal ini acapkali dilakukan ketika masyarakat mudik atau bepergian jauh seperti libur sekolah. Tak sedikit saat pulang ke kampung halaman, ingin membawa hasil bumi atau oleh-oleh tanpa mengindahkan payload. “Inilah yang mesti dicermati. Biasanya yang bawa barang banyak itu saat balik. Mereka bawa oleh-oleh, belum lagi tambahan barang bawaan yang dibawa saat berangkat,” tegasnya.


“Sebaiknya kondisi ini wajib diperhatikan. Lagi pula membawa barang melebihi kapasitas, tentu membuat penumpang sangat tidak nyaman. Belum lagi bahaya yang harus diambil bila membawa barang di atap kendaraan terlalu banyak. Bahaya itu bukan hanya pada mobil yang Anda kendarai saja. Tapi ada pengguna mobil lain juga,” imbaunya. (Alx/Odi)


Sumber: Auto2000


Baca Juga: Toyota dan Subaru Kembangkan Platform Mobil Listrik

kali dibagikan

Promo Populer di Jakarta Selatan

Mobil Populer

  • Populer
  • Terbaru
  • Yang Akan Datang
  • Komparasi