Tantangan Toyota dalam Menggenjot Kinerja Ekspor Mobil

Tantangan Toyota dalam Menggenjot Kinerja Ekspor Mobil

Secara umum, kinerja ekspor Toyota Indonesia (TMMIN) menuai tren positif. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir, berdampak pada neraca perdagangan Toyota Indonesia. Periode 2014 hingga Juli 2018, neraca perdagangan TMMIN mencatat net ekspor sekitar US$ 2,9 juta (nilainya setara 43 triliun rupiah). Namun, positifnya neraca perdagangan di sektor hilir, masih menyisakan pekerjaan rumah di dunia industri otomotif nasional.

Jika dilihat, neraca perdagangan di sektor hulu rantai suplai otomotif, terutama di level pemasok komponen lapis ke 2 dan 3 masih negatif. Menurut Toyota, salah satu penyebab permasalahan ini adalah bahan mentah dan bahan baku industri manufaktur. Soalnya material kendaraan masih banyak yang impor.

Hal inilah yang kemudian turut memengaruhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk otomotif Indonesia. Dengan banyaknya material impor, menjadikan TKDN murni atau “true localization” tidak setinggi yang diharapkan.

Untuk itu, TMMIN bersama pemangku kepentingan terkait, melakukan upaya-upaya untuk melokalkan material mentah dan bahan baku industri manufaktur otomotif. Pastilah komponen yang terangkum dalam program true localization. Tujuannya, memberi sumbangsih pada pencapaian TKDN murni yang tinggi.

Upaya ini dilakukan TMMIN sejak 2004. Manufaktur mengaku menggunakan baja lokal untuk bagian-bagian kendaraan tertentu. Pada 2016 mereka kerja bareng PT Pertamina, melokalkan engine oil lubricant. Kemudian pada 2017 ada peningkatan komponen lokal, dua jenis bahan mentah yaitu resin. Perusahaan bekerjasama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) dan non-woven fabric, bekerjasama dengan PT Herculon Carpet. Itu berhasil mereka lokalkan.

Bahkan saat ini TMMIN tengah dalam proses riset dan pengembangan penggunaan aluminium lokal. Material ini digunakan pada pelek dan wheel disc, dengan menggandeng INALUM dan Pako. TKDN produk-produk T brand kini berada di angka 75% - 94%. Sementara kalau TKDN murni di angka 65%. Toyota menargetkan bisa mencapai TKDN murni/true localization level 80% pada 2020.

Langkah itu membuat Toyota Indonesia menjadi investor, sekaligus pengekspor otomotif terbesar di Indonesia. Mereka diganjar dua penghargaan oleh Bank Indonesia (BI). Kategori Pengelola Utang Luar Negeri Terbaik dan Responden Statistik Terbaik.

BI juga menilai TMMIN tepat waktu dalam pelaporan informasi dan data bisnis. Pabrikan asal Jepang ini, menyandang nominator penghargaan Penyumbang Devisa Terbaik. Penghargaan diserahkan oleh Gubernur Bank Indonesia kepada Presiden Direktur TMMIN, dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2018.

“Penghargaan ini menjadi bukti Toyota dalam memberikan lebih banyak kontribusi pada perkembangan industri otomotif. Ini sekaligus mengukuhkan industri otomotif pantas menjadi sektor industri unggulan nasional. Terutama melalui investasi dan kegiatan penjagaan neraca perdagangan melalui aktivitas ekspor,” imbuh Warih, Presdir TMMIN. (Alx/Odi)

Baca Juga: Kinerja Ekspor Toyota Masih Positif, Fortuner Paling Laris Diminati