• Wishlist

Krisis Argentina dan Turki, Berimbas pada Pelemahan Rupiah dan Menjalar ke Sektor Otomotif

Krisis Argentina dan Turki, Berimbas pada Pelemahan Rupiah dan Menjalar ke Sektor Otomotif

Efek domino krisis pasar keuangan di Argentina dan Turki, menyebar ke pasar global. Indonesia pun kena ‘pukulan telak’ karenanya. Nilai tukar rupiah merosot ke titik terendah sejak krisis 1998 silam. Senin pagi (3/9) levelnya berada pada Rp 14.750 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan banyak jurus demi meredam volatilitas rupiah. Salah satunya, pakai cadangan devisa hingga miliaran dolar.


wuling cortez di pabrik


 


Bahkan BI tercatat sudah menaikkan suku bunga acuan empat kali sejak pertengahan Mei. Terakhir mereka menaikan 5,75%. Jelas, mempengaruhi pembiayaan kendaraan di sektor otomotif. Suku bunga yang naik, bikin market lesu. Lantas, kenapa efek krisis keuangan Argentina dan Turki bikin Indonesia kena imbasnya, termasuk dunia otomotif? Baiklah, kita coba ceritakan runutannya secara perlahan.


Nah, perlu diketahui, sebelum kedua negara tersebut terkena krisis, pasar negara berkembang seperti Indonesia sudah khawatir. Kita di bawah tekanan lantaran meningkatnya suku bunga dan dolar AS yang lebih kuat. Sementara bagian dari daya tarik pasar Indonesia adalah imbal hasil yang relatif lebih tinggi, dibandingkan pasar negara maju.


Tapi, belakangan selisih imbal hasil itu menyempit. Sebab, The Federal Reserve (The Fed) alias bank central AS menaikkan biaya pinjaman. Pasar negara berkembang seperti Indonesia menjadi kurang menarik. Krisis di Argentina melebihi Turki, mengurangi minat investor untuk aset berisiko, mendorong eksodus dana dari pasar negara berkembang, ke tempat yang relatif aman di pasar negara maju.



Mengapa Indonesia menjadi sasaran?


Jadi begini. Negara kita merupakan salah satu dari beberapa pasar negara berkembang di Asia, yang memiliki defisit transaksi berjalan (begitu juga India dan Filipina). Defisit sangat bergantung pada aliran modal asing. Apalagi untuk membiayai kebutuhan impor. Makanya, kemarin Kemenperin menyerukan untuk menekan impor kendaraan mewah yang bersifat fashion. Bukan tanpa sebab, neraca perdagangan di sektor otomotif mengalami defisit sekitar US$ 500 juta, selama semester pertama 2018.


Setidaknya dengan menekan impor mobil mewah CBU, Pemerintah bisa mengurangi arus modal yang keluar tajam. Pembatasan impor mobil CBU diharapkan bisa menghemat devisa US$ 700 juta hingga akhir 2018.


Menjawab pertanyaan di atas, untuk diketahui, Investor asing memiliki hampir 40% dari obligasi Pemerintah Indonesia. Dan angkanya menjadi salah satu tertinggi di pasar negara berkembang Asia. Ditambah lagi, Pemerintah Indonesia menjalankan defisit anggaran, yang berarti perlu meminjam untuk membiayai pengeluaran atau belanja. Mau tak mau, Indonesia paling terdampak, dibanding negara berkembang di Asia.



Tameng Menghadapi Situasi


Pemerintah dan BI tetap antisipasi. BI menaikkan suku bunga dengan total 125 basis poin sejak Mei 2018. Mereka melakukan intervensi baik dalam mata uang dan pasar obligasi untuk menahan rupiah. Mereka juga merespons volatilitas pasar dengan menekankan kebijakan moneter yang hawkish, alias kebijakan yang menekan sektor usaha.


Sementara Pemerintah Indonesia juga menyiapkan kebijakan untuk menopang pasokan dolar AS. Selain membatasi impor barang-barang konsumsi (termasuk mobil CBU), Pemerintah mempercepat penggunaan biodiesel berbasis sawit. Dan hari ini B20 mulai berlaku. Meski menuai kritik dari pengusaha, Pemerintah memaksa memanfaatan biodiesel 20%, untuk memangkas impor bahan bakar.


Pemerintah juga meminta Pertamina menjadi pembeli tunggal minyak mentah, yang diproduksi secara lokal untuk membantu mengurangi impor minyak. Optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20 ini, diperkirakan sanggup menghemat sekitar US$ 2 miliar pada sisa empat bulan terakhir 2018. Mereka juga mendorong APM untuk menggenjot ekspor kendaraan, untuk menunjang devisa negara. (Alx/Odi)


Baca Juga: Pertamina Lakukan Digitalisasi Sistem, SPBU Tak Bisa Tipu-tipu Takaran BBM


Sumber: Bloomberg