Sistem Perlindungan EV saat Terjadi Kecelakaan

Sistem Perlindungan EV saat Terjadi Kecelakaan

Mobil listrik masih bisa dibilang menjadi barang baru di pasar otomotif. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di sebagian besar belahan dunia. Banyak aspek yang masih menjadi tanda tanya di benak khalayak umum terkait mobil listrik, salah satunya soal keselamatan. Seberapa aman mobil listrik dibandingkan dengan mobil konvensional  bermesin pembakaran internal?

Dengan melibatkan tim engineering dan proses pengembangan panjang dari setiap pabrikan, mobil listrik tentunya bukan sembarang jadi. Ada perhitungan dan pertimbangan mendalam soal bagaimana mobil bisa nyaman dan aman dikendarai oleh konsumen. Concern terbesar yang menyangkut keselamatan mobil listrik saat ini berkisar pada potensi kebakaran dan menyetrum saat kecelakaan.

Nissan sebagai salah satu pabrikan dengan penjualan mobil listrik terlaris di dunia, menyatakan kualitas keselamatan yang dimiliki mobil listriknya sama baiknya dengan mobil konvensional. Ditegaskan bahwa tingkat keselamatan penumpang mobil listrik Nissan sama baiknya ketika maupun pasca terjadi kecelakaan dibandingkan mobil konvensional.

Wayne Harris selaku Manager of Electrification Nissan Australia mengklaim bahwa tidak ada area yang rentan pada mobil listrik jika dibandingkan dengan mobil biasa yang setara kelasnya. “Dalam peraturan kecelakaan ada persyaratan khusus untuk mobil listrik terkait dengan pencegahan sengatan listrik dan tumpahan elektrolit,” jelas Harris.

Sementara dari Mercedes-Benz sebagai produsen mobil listrik di kelas premium menyatakan bahwa ada proteksi ekstra di mobil listrik yang mereka buat. Dibandingkan mobil konvensional, perlindungan yang diberikan oleh mobil listrik Mercedes-Benz bukan cuma menyangkut keselamatan penumpang dan crumple-zone pada body dan chassis mobil. Proteksi lebih juga diberikan untuk komponen baterai ketika terjadi tabrakan.

Nissan Leaf

Baterai mobil listrik yang mengandung banyak sel dapat menyebabkan kebakaran ketika terjadi kecelakaan, jika tidak dikemas dengan baik oleh pabrikan. Bahkan kriteria riset dan pengembangan mobil listrik juga meliputi menguji reaksi baterai saat terjadi benturan dan ketika ditembus oleh benda asing, dengan simulasi panas berlebih dan kelebihan beban juga.

“Baterai dikelilingi oleh rangka yang kokoh dengan struktur benturan yang tidak terpisahkan. Elemen deformasi dipasang di antara rangka dan baterai, dan elemen ini mampu menyerap gaya tambahan jika terjadi benturan samping yang parah,” jelas Sarah Widmann, juru bicara Intelligent Drive & Passive Safety di Mercedes-Benz.

Lalu bagaimana soal potensi sengatan aliran listrik? Mercedes-Benz juga mengklaim bahwa ketika sistem elektrik mobil terekspos akibat terjadi kecelakaan, pengguna akan tetap terjamin keamanannya. Pabrikan Jerman ini punya konsep “multi-stage safety” yang berfungsi saat terjadi kecelakaan. Sistem elektrik bertegangan tinggi pada mobil akan secara otomatis mati saat terdeteksi adanya benturan. Dengan begitu dalam hitungan detik tidak ada sisa tegangan dalam sistem tegangan tinggi di luar baterai yang dapat sebabkan cedera.

Bahkan dalam keadaan darurat setelah kecelakaan yang tidak terlalu parah, sistem masih memungkinkan mobil listrik untuk dinyalakan dan dikemudikan kembali jika terdeteksi tidak ada potensi kerusakan yang membahayakan. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat yang aman atau perbaikan.

Bicara soal biaya perbaikan mobil listrik akibat kecelakaan, apakah lebih mahal dibandingkan mobil konvensional, Nissan dan Mercedes-Benz menjawab akan tergantung dari tingkat kerusakan pada mobil. Pada dasarnya, bisa dibilang tidak ada perbedaan besar antara mobil listrik dan mobil konvensional.

 

Baca Juga: Ragam Mobil Listrik yang Beredar saat Ini

Anda mungkin juga tertarik

  • Yang Akan Datang

Video Mobil Terbaru di Oto

Oto
Tonton Video Mobil