Kena Masalah Airbag, BMW Recall Ribuan Mobil Di China

Diterbitkan Pada Januari 02, 2017 Oleh Aldiro Syahrian untuk BMW di Oto

BMW terpaksa menarik kembali mobil yang telah mereka jual. Recall ini dilakukan, karena adanya laporan cacat produksi pada bagian airbag. Penarikan kembali ini, dilakukan BMW di China.


Setidaknya, tercatat 200.000 unit mobil BMW yang terkena dampak recall akibat airbag ini. Sementara cacat produksi ini dilaporkan oleh General Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine (AQSIQ) (AQSI). Menurut AQSI airbag yang terdapat pada 200.000 unit mobil BMW bukannya melindungi pengemudi namun malah dapat membahayakan.


Ini lantaran generator gas di airbag buatan Takata, dianggap berbahaya. Recall yang terjadi di China ini mirip dengan kejadian serupa di Amerika Serikat dan berbagai belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Mobil-mobil yang terkena recall terdiri dari 168.861 yang diimpor dan diproduksi pada Desember 2005 hingga Desember 2011.


hilang traksi


Sisanya, sebanyak 24.750 mobil yang diproduksi di lokal China antara Juli 2005 hingga Desember 2011.


Dalam melakukan perbaikan, BMW menyatakan tidak memungut biaya atau gratis. Dengan adanya penarikan untuk perbaikan ini, menambah panjang deretan mobil buatan BMW yang bermasalah.


Sebelumnya, pabrikan mobil asal Jerman ini, telah melakukan recall hingga 154.000 unit mobilnya di pasar Amerika Serikat. Dampak airbag buatan Takata tidak hanya menghinggapi BMW, namun para produsen mobil lain seperti Nissan, Honda, Toyota, GM. Bahkan Ferrari, McLaren dan Tesla, juga terpaksa ikutan melakukan recall pada mobil buatannya.


Hingga saat ini, baru 29 juta kendaraan di Amerika Serikat yang recall, dan 12,5 juta airbag yang diperbaiki. Bahkan, dilaporkan sudah terdapat korban meninggal akibat cacat produksi di bagian airbag ini. Setidaknya, tak kurang dari 11 korban meregang nyawa, sementara 184 lainnya mengalami cedera saat airbag mengembang.


Akibat kasus yang dihadapi, produsen airbag Takata tengah menghadapi tuntutan denda maksimal US$ 1 Milliar atau sekitar Rp 13,48 trilliun. Wacana ini muncul setelah Departemen Pengadilan Amerika Serikat (AS) mendiskusikan jalan keluar agar Takata sebagai suplier airbag yang mencelakakan, mengaku bersalah.


Seperti dilansir Wall Street Journal, Jaksa Federal dan tim pengacara Takata sedang menyusun perjanjian yang adil sebagai bagian tanggung jawab perusahaan ini atas produknya yang justru membahayakan penumpang. Dikabarkan, paling cepat perjanjian ini akan selesai pada Januari ini, namun tak menutup kemungkinan prosesnya bisa lebih lama.


Baca Juga: Nissan Recall 53 ribu mobil terkait airbag

Iklan

Berlangganan Buletin