Cerita Si Mungil BMW Isetta, Misi Penyelamatan Melintasi Tembok Berlin

Cerita Si Mungil BMW Isetta, Misi Penyelamatan Melintasi Tembok Berlin

Klaus-Günter Jacobi, pria berambut putih dengan tinggi badan 195 cm itu duduk di meja granit. Pria berusia 79 tahun itu menyambut dari dalam apartemen berukuran 30 meter persegi miliknya di Berlin. Dari balkon apartemennya, Anda bisa melihat Teufelsberg dari jauh. Teufelsberg atau yang dikenal dengan sebutan ‘Gunung Setan’, dulunya adalah stasiun mata-mata tempat para agen rahasia Amerika Serikat mendengarkan percakapan radio tentara Uni Sovyet dari Jerman Timur.

Tak banyak yang tahu jika pria ini punya cerita luar biasa tentang dirinya, tembok Berlin, persahabatan, dan mobil mungil Isetta. Ia mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan seorang sahabat. Sahabatnya itu ia sembunyikan di dalam Isetta, mobil beroda tiga yang berukuran sangat kecil melewati penjagaan super ketat Tembok Belin.

Ia menceritakan kisah menegangkan yang dialaminya kepada BMW Group beberapa waktu lalu. Kami sarikan kisahnya kepada Anda berikut ini.

Isetta Escape

Lahir di Pankow, Berlin Timur pada 1940, Klaus-Günter Jacobi adalah anak seorang perwira tentara. Paska Perang Dunia Ke-II, Partai Komunis Jerman Timur berkuasa. Awalnya mereka berharap keadaan akan menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya tidak demikian.

Keluarga Jacobi pindah ke Jerman Barat pada Oktober 1958. Dari rumah barunya di Berlin Barat, ia mendengar kabar situasi di kampung halamanya semakin memprihatinkan. Jerman Timur merampok kemerdekaan rakyatnya dengan menutup perbatasan. Tembok Berlin yang tebal dan tinggi dilengkapi kawat berduri dibangun pada 1961. Banyak yang berusaha melarikan diri ketika itu, banyak juga yang gagal. Setidaknya 140 orang tewas di Tembok Berlin, sebagian besar diantaranya ditembak oleh tentara patroli Jerman Timur.

Jacobi dan keluarganya beruntung, pindah ke Berlin Barat sebelum perbatasan ditutup. Tapi sahabatnya sejak kecil, Manfred Koster tidak begitu. Teman satu sekolah Jacobi itu sempat masih menggantungkan harapannya pada paham sosialis ketika itu. Ia memutuskan tetap tinggal di wilayah kekuasaan Uni Sovyet itu lama setelah sahabatnya pergi.

Baca juga: Sedang Cari Mobil LCGC Keluarga, Ambil Toyota Calya atau Daihatsu Sigra?

Isetta Escape

Rencana Penyelamatan Lewat Tembok Berlin

Setahun paska Tembok Berlin berdiri, November 1962, Manfred Koster mendapat surat dirinya didaftarkan negara wajib menjadi Tentara Rakyat Jerman Timur. Ia harus melapor pada 1 Juni 1963. Kesabarannya habis, pemerintah Jerman Timur telah benar-benar merampas kebebasan dan bahkan menindas rakyatnya. Merasa tak ada alasan lagi untuk bertahan, ia memutuskan untuk pergi.

Tembok tinggi yang baru berdiri dibuat hampir tidak mungkin bisa ditembus. Melarikan diri dengan cara memanjat terlalu beresiko karena mudah kepergok tentara patroli perbatasan. Koster mencari jalan lain. Ia teringat akan sahabatnya, Klaus- Günter Jacobi, mungkin sahabatnya itu punya ide lain. Tapi bagaimana caranya ia bisa menghubungi sahabatnya yang terpisahkan tembok raksasa itu? Bagaimana mereka bisa merencanakan pelariannya?

Koster harus bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Tapi bagaimana caranya? Kebetulan kakak Koster, Hans sudah lebih dahulu pindah ke Berlin Barat. Jadi ketika Hans mengunjunginya, Koster meminjam tanda pengenal kakaknya dan menggunakannya untuk menyebrang satu malam ke Barat. Wajah kakak-beradik ini memang mirip hampir seperti anak kembar. Jadi Manfred Koster tak mengalami kesulitan melintasi pos penjagaan perbatasan. Tanpa pemberitahuan, ia muncul di depan pintu Jacobi. Malam itulah keduanya mencetuskan rencana untuk menyelundupkan Koster dengan menggunakan BMW Isetta Jacobi melalui pos perbatasan.

Baca juga: Ini 5 Mobil Paling Unik di Dunia yang Memiliki Tiga Roda

BMW Isetta

BMW Isetta, Mobil Bersejarah

Klaus-Günter Jacobi adalah bagian dari sejarah Perang Dunia Ke-II, begitupun BMW Isetta. Pada masa itu, hanya sekitar dua persen saja populasi Jerman yang mampu membeli mobil Jadi, ketika mobil mungil ini mulai melantai di showroom seharga sekitar Rp 20 jutaan saat ini, hampir semua keluarga mampu memilikinya. Jadi walaupun tenaganya hanya 13 hp dan kecepatan maksimumnya hanya 80 kpj, setidaknya mobil ini bisa dipakai untuk mobilitas sehari-hari.

Isetta dilihat Jacobi pertama kali dari balik jendela showroon dekat bar yang sering ia kunjungi. Pada 1961 ia membeli Isetta berwarna merah itu dengan harga sekitar Rp 15 jutaan. Ia ingat betul pertama kali membawa mobil itu ke Paris mengunjungi saudarinya. Betapa bangganya Jacobi ketika itu, menarik perhatian setiap wanita yang ia lewati. Tapi pengalaman yang tak akan pernah hilang dari ingatannya bersama mobil mungil miliknya itu, ketika menyelundupkan sahabatnya keluar dari Jerman Timur.

Menyembunyikan orang di dalam mobil yang lebarnya tak lebih dari 127 cm dan panjang 228 cm itu jenius sekaligus gila. Jenius karena orang lain tak mungkin curiga mobil dengan ruang yang sangat sempit ini mampu menyelundukpan orang. Gila karena bagaimana mungkin bisa menyembunyikan orang setinggi 170 cm tanpa terlihat inspeksi ketat tentara perbatasan Jerman Timur yang terkenal sangat teliti.

Para penjaga biasanya memperhatikan seluruh bagian kabin, sampai menggunakan cermin untuk melihat kolong kendaraan. Untungnya, Klaus-Günter Jacobi punya cara untuk mengubah Isetta miliknya menjadi mobil penyelamatan. Ia pernah mendapat pelatihan menjadi mekanik mobil dari 1956 sampai 1959. Ia kemudian meneruskan pelatihannya dengan kerja sambilan menjadi instruktur mengemudi di bengkel tempatnya belajar. Makanya ia punya tempat yang aman dan alat-alat untuk memodifikasi kendaraannya.

Baca juga: Aliran Modifikasi Outlaw, "Terlarang" Sekaligus Dikagumi

Isetta Escape

Modifikasi ‘Gila’ BMW Isetta

Selama beberapa minggu Jacobi pergi ke bengkelnya setiap malam. Ia harus bergerak cepat, karena tanggal Manfred Koster dipanggil melapor menjadi militer Jerman Timur semakin dekat. Pemilik membiarkan bengkelnya buka sampai larut malam untuk Jacobi. Beberapa temannya datang ke bengkel membawa minuman untuk menemaninya. Sebetulnya ini bagus, semoga saja tak ada yang membocorkan rahasia ini.

“Saya tak ingat berapa lama saya menghabiskan waktu memodifikasi Iseta, yang saya ingat hanya satu hal, membawa sahabtku keluar dari Jerman Timur,” kata Jacobi.  Berikut ini adalah deretan modifikasi yang dilakukan Jacobi pada Isetta miliknya:

1. Melepas kotak penyimpanan di belakang kursi. Kemudian memasangnya 4-inci lebih tinggi dari posisi sebelumnya untuk memberi ruang agar sahabatnya itu muat bersembunyi di bawahnya.

2. Melepas kursi dan ban cadangan. Lalu membuat lubang sebesar 20-inci di panel untuk akses masuk.

3. Mencopot cover knalpot, saringan udara dan semua komponen tak penting yang memakan tempat.

4. Agar bisa memuat orang di dalam situ, pipa saluran knalpot harus dibengkokan.

5. Memasang panel metal di lantai untuk mencegah ruang persembunyian tebakar karena panas knalpot.

6. Lantaran bagian belakang kendaraan menjadi lebih berat, bagian dalam lubang roda dipotong agar ban tak terserut fender. Suara berisik bisa menimbulkan kecurigaan.

7. Modifikasi terakhir ia lakukan di hari ‘H’. Ia mencopot tangki bensin berkapasitas 3,5 liter dan menggantinya dengan kaleng oli. Setengah liter bensin saja, itulah yang ia butuhkan untuk membawa sahabarnya melewati perbatasan.

Baca juga: Daftar Tunggangan Khabib Nurmagomedov, Atlet UFC yang Kini Gantung Sarung Tinju

Isetta Escape Route

Misi Gila

Tujuan utama Jacobi memang menolong sahabatnya. Tapi dibalik itu, Jacobi sebetulnya juga merasa tertantang. Ia ingin menunjukkan perlawanan terhadap rezim otoriter seperti yang ia dan Manfred Koster lakukan dulu sebelum ia menyebrang ke Berlin Barat. Dulu sewaktu perbatasan masih terbuka, keduanya sering memantau patroli perbatasan. Mencatat kapan prajurit perbatasan berganti giliran jaga.

Membawa sahabatnya itu menuju kemeredakaan adalah kehormatan. Masalah saat itu, Jerman Timur tak mengakui wilayah Berlin Barat sebagai bagian dari Jerman Barat. Jacobi yang penduduk tetap Berlin Barat tak diizinkan masuk ke wilayah Jerman Timur. Untuk itu ia mencari seorang pengemudi lain. Ia menemukan seorang pelajar Jerman yang bersedia membantu rencananya.

Isetta Escape

Momen Menegangkan di Pos Jaga Perbatasan

Awalnya ada seorang mahasiswa kedokteran yang bersedia menjadi pengemudi Isetta. Namun gadis itu kehilangan keberaniannya saat melakukan simulasi di perbatasan. Setiap detik yang ia lewati saat mengantri di perbatasan terlalu menakutkan baginya. “Saya tak memaksanya, ujar Jacobi. “Tapi saya jadi bingung, karena tanggal Manfred dipanggil ke militer sudah sangat dekat.”

Pada tanggal 23 Mei, tepat seminggu sebelum Manfred dipanggil menghadap, Jacobi mendapat panggilan telepon. Dua orang pelajar bersedia menjadi pengemudi. Mereka tak ingin menyebutkan namanya. Hari itu juga keduannya menyeberang ke Berlin Timur membawa dua kendaraan, Isetta yang telah dimodifikasi dan satu unit VW Kodok sebagai cadangan.

Keduanya bertemu dengan Koster di Pankow dan membawanya ke daerah pedesaan yang tak banyak orang. Di sana mereka menyembunyikan Koster ke dalam Isetta. Siang harinya Jacobi sudah menunjukkan kepada kedua pelajar itu cara melepas tangki bensin 3,5 liter dengan tangki yang berukuran lebih kecil. Ternyata butuh waktu lebih lama bagi kedua pelajar tersebut untuk menukar tangki.

Gara-gara itu misi rahasia ini sempat hampir gagal. Petani pemilik ladang tempat mereka membongkar tangki bensin dan tiba-tiba datang dan menanyakan apa yang sedang mereka lakukan. Untungnya kedua pelajar itu menyelamatkan keadaan dengan beralasan sedang mengganti ban yang kempis. Saat itu, untuk pertama kalinya Manfred Koster benar-benar diam mematung di dalam ruang yang sempit. Hujan deras yang turun semakin membuat suasana di dalam ruang persembuyian yang gelap dan sempit semakin menakutkan.

Baca juga: Dua Mobil Non Mercedes-Benz Hasil Garapan AMG

Isetta Escape

Antrian Panjang Di Perbatasan

Malam itu, 23 Mei 1963, suasana sangat suram. Hujan turun deras. Di depan pos perbatasan jalan Bornholmer, satu BMW Isetta terhenti. Pengemudinya ingin menyebrangi perbatasan antara Berlin Timur dan Berlin Barat. Raut gugup pengemudi tergambar jelas di wajahnya. Tentara perbatasan dengan wajah dingin memeriksa dokumen dan menginspeksi kendaraannya.

Anjing penjaga berteriak. Setiap detik terasa sangat mendebarkan bagi pengemudi muda itu. Lebih menakutkan lagi yang dirasakan oleh seorang penumpang gelap yang bersembunyi di balik ruang mesin mungil Iseta tersebut. Suara berbisik penjaga sayup menelisik ke dalam ruang persembunyiannya yang sempit. Hanya selembar plat tipis yang menutupinya dari tajamnya mata para penjaga.

Tiba-tiba pintu kap mesin dibuka. Sinar lampu senter menyusup menyilaukan. Penumpang gelap yang bersembunyi itu menahan nafas. Bila ketahuan, bukan tiket menuju kebebasan yang ia dapatkan. Nyawa jadi taruhannya.

Baca juga: Lima Alasan Honda Brio Cocok untuk Kawula Muda

BMW Isetta

Jacobi menunggu di seberang Jembatan Bornholmer, menghisap sebatang demi sebatang rokok. Ia terus melihat ke arah perbatasan dan jam tangan yang ia kenakan. Saat itu sudah jam sebelas malam lewat 20 menit. Ia menginjak satu lagi puntung rokok di jalan. Perbatasan tutup tepat tengah malam.

Lalu tepat lewat tengah malam, palang terangkat, Isetta dan VW kodok melewati perbatasan. Setelah keduannya melewati Jacobi, ia langsung berlari di samping Isetta.

“Manfred! Manfred!” panggil Jacobi

“Klaus!” sahutan Koster sayup-sayup dari dalam Isetta terdengar.

Di sebuah taman di Jalan Grünthaler mereka semua berhenti. Butuh sekitar lima menut untuk mengeluarkan Manfred dari dalam kabin yang bisa saja menjadi peti kematiannya. Kakinya kaku, punggungnya gatal, namun itu semua tak mampu mengalahkan perasaan bahagia yang ia rasakan. Akhirnya bebas!

Masih ada sekitar dua tetes bensin tersisa di tangki bahan bakar. Tak sabar, Klaus-Günter membawa Manfred berputar-putar sejenak, kali ini duduk di kursi depan dengan nyaman. Mereka berdua merayakan keberhasilan ini sampai keesokan harinya.

Baca juga: Kenapa BMW M3 Begitu "Dibenci" di AS?

BMW Isetta key

Paska keberhasilannya membawa Koster dari Jerman Timur dengan selamat, Jacobi memutuskan untuk memusnahkan Isetta miliknya. Ia membawanya ke tempat penghancuran kendaraan (scrap yard). Menurutnya setelah dimodifikasi yang ia lakukan, mobil itu tak akan lulus inspeksi kendaraan juga nantinya. Satu-satunya yang tersisa dan ia simpan hingga kini adalah kunci pintu kecil ke ruang mesin. Ia menunjukkannya dengan hati-hati sambll melihatnya. Seolah ia sedang melihat kembali kisah perjalanannya ketika itu.

Jacobi mengatakan, kedua pelajar itu melanjutkan misi penyelamatan menggunakan Isetta yang lain. Mereka melakukan penyelamatan menggunakan prinsip yang sama dengan rencana pembebasan Koster sebelumnya. Namun delapan belas bulan kemudian, salah seorang tertangkap saat sedang menyelundupkan seseorang di dalam mobil. Seorang wanita yang tertangkap dan ditarik keluar dari dalam persembunyian sempit di dalam Isetta. Para pelajar kemudian merilis keterangan pers. “Sembilan Warga Berlin Timur Berhasil Melarikan Diri Di Dalam Isetta” tulis tajuk berita koran seore pada 27 Oktober 1964. Mereka mendapat idenya dari Klaus-Günter Jacobi.

Lebih dari 30 tahun sudah berlalu. Klaus-Günter Jacobi kini bekerja sebagai seorang penjaga di Berlin Wall Museum di jalan Friedrich. Lebih dari 850 ribu pengunjung setiap tahunnya tak menyadai, otak dibalik misi penyelamatan menggunakan mobil yang dimodifikasi sedang memperhatikan mereka dari balik jendela Checkpint Charlie. (Rizki)

Sumber: BMW Group

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store