• Wishlist

Standardisasi Euro 4 Diesel Dinilai Bisa Dongkrak Ekspor Kendaraan

Standardisasi Euro 4 Diesel Dinilai Bisa Dongkrak Ekspor Kendaraan

Indonesia sudah menerapkan standardisasi gas buang Euro 4. Namun hanya berlaku pada kendaraan roda empat penenggak bensin sejak Oktober 2019. Faktanya, beleid untuk emisi diesel belum diterapkan. Rencana, bila tak meleset dijalankan pada 7 April 2021. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri LHK No.P. 20 Tahun 2017. Tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor roda 4 atau lebih Tipe Baru Kategori M, N dan O.

Ekspor Isuzu Traga

Lantas apa hubungannya dengan peningkatan ekspor? Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan. Penerapan Euro 4 bermesin diesel tidak hanya punya relasi dengan lingkungan. Tapi juga bisnis karena mengarah kepada investasi untuk Indonesia. "Jujur, Indonesia agak terlambat masuk ke Euro 4 dan 5. Sehingga investasi yang terjadi juga berdampak ke ekonomi. Sehingga kalau ada yang bertanya, investasi diesel banyak bergerak ke Thailand. Sedangkan kalau ke Indonesia itu tipe bensin," jelas dia saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu.

Untuk diketahui, dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan: setiap usaha dan kegiatan produksi kendaraan bermotor tipe baru, wajib memenuhi ketentuan Baku Mutu Emisi Gas Buang standar Euro 4. Dan di sini masih menunggu realisasi khusus bagi diesel. Putu, mengakui, negara tetangga seperti Thailand memang unggul dari segi komersial atau pikap. Sedangkan Indonesia masih berpaku pada mesin bensin. "Kita (indsutri otomotif) hanya 18 persenan (diesel) dan kalau semua dikombinasi mampu produksi 1,34 juta unit. Kalau Thailand, yang sudah masuk Euro 4 dan 5 terlebih dahulu, mampu memproduksi 2 juta unit," terangnya.

Ekspor Toyota Fortuner

Kalau dibedah lagi, dari total kapasitas produksi terpasang di Negeri Siam. Sebesar 70 persen diekspor dan 30 persen untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kebalikannya, di Indonesia sebanyak 70 persen untuk domestik dan hanya 30 persen diekspor. Untuk itu, demi mendongkrak performa ekspor, perlu didukung kebijakan industrialis yang sinergi. Baik antara regulator dan pelaku usaha.

Beberapa pabrikan sebetulnya mulai melakukan ekspor kendaraan niaga bermesin diesel. Tak hanya penetrasi domestik melulu yang disentuh. Contoh, Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) yang mengapalkan Traga ke Filipina. Jumlahnya 6.000 unit hingga akhir 2020. Kegiatan itu diperkirakan memberi kontribusi pada devisa negara mencapai US$ 66 juta saban tahun. Ini hanya permulaan saja. Ke depan mereka berupaya memperluas jangkauan market.

Setidaknya dalam rentang tiga tahun kelak, Isuzu berencana memperluas negara tujuan ekspor Traga hingga lebih dari 20 negara. Tidak hanya di Asia Tenggara, namun juga Timur Tengah, Amerika Latin serta beberapa negara di Afrika. Ini hanya gambaran kecil. Bukan tak mungkin, bila Indonesia mulai menerapkan regulasi Euro 4 diesel, peluang market menganga lebar. (Alx/Ind)

Baca Juga: Isuzu dan Volvo bergandengan tangan demi masa depan