Teknologi AC Anyar Hyundai Sanggup Menghadirkan Udara Lebih Berkualitas

Teknologi AC Anyar Hyundai Sanggup Menghadirkan Udara Lebih Berkualitas

Akibat pandemi, pola pikir keselamatan kini mungkin bukan lagi menyoal perlindungan celaka. Ada upaya lain dari pabrikan otomotif untuk melindungi kesehatan pengguna. Terobosan pun dikembangkan. Salah satunya Hyundai Motor Group, mengenalkan teknologi AC termutakhir mereka guna menjamin udara berkualitas dalam kabin.

Pengatur suhu ruangan mobil menjadi komponen utama untuk menjaga kualitas udara. Bagaimana tidak, sistem menyedot hawa dari luar dan kemudian menerjemahkan jadi aliran angin sejuk. Dengan demikian, translasi sistem turut menentukan seberapa baik kebersihan udara kabin. Nah, Hyundai sendiri siapkan tiga fitur utama agar kualitas semakin terjaga.

After-Blow

Bau mengindikasikan kontaminasi dalam udara. Kendati begitu, siapa suka AC bau apalagi lembab? Ketika hal itu terjadi, ada kemungkinan evaporator kotor. Pasalnya, sebelum memasuki kabin, udara harus melewati kisi evaporator agar jadi dingin. Kelembaban akibat kondensasi di perangkat ini sendiri menjadi tempat bersarang jamur dan bakteri saat AC beroperasi, lantas mencipta bau tak sedap. 

Teknologi ciptaan Hyundai berfungsi untuk meminimalisir bau. After-Blow, bakal mengeringkan kondensasi pada evaporator sekaligus menekan pertumbuhan lumut di sistem. Setelah 10 menit mobil berhenti, blower AC kembali aktif mengeringkan sisa-sisa air di permukaan. Teknologi ini mengusung sistem Intelligent Battery Sensor (IBS), hanya mengalirkan listrik ketika cuaca panas dan kondisi baterai penuh.

Baca Juga: Penjualan Hyundai Kona Electric Capai 100 Ribu Unit, Diprediksi Segera Mendarat di Indonesia

Multi-Air Mode

Dalam sistem konvensional, angin dingin disemburkan melalui kisi AC utama. Langsung menembak sesuai arah. Tapi tidak di sistem kembangan Hyundai. Diberi nama Multi-Air Mode, volume tetap sesuai keinginan hanya saja semburan dialirkan melewati berbagai titik lain di samping ventilasi normal. Sebagian dipindah menuju Micromulti Air Holes sehingga angin keluar lebih lembut dan tidak menusuk.

Sistem tidak bekerja secara permanen. Mode ini dapat diaktifkan jika penumpang merasa terganggu dengan aliran yang menyasar satu titik saja.

Perangkat AC

Fine Dust Indicator

Fitur terakhir adalah Fine Dust Indicator, berguna memberikan informasi terkait konsentrasi polusi. Indikator menampilkan seberapa banyak partikel debu superhalus (PM 2.5) dalam kendaraan lewat satuan μg/m3 dan warna. Biru menunjukkan tingkatan ‘baik’ (0-15 μg/m3), hijau untuk ‘cukup’ (16-35 μg/m3), jingga sama dengan ‘buruk’ (36-75 μg/m3), dan merah sudah pasti ‘sangat buruk’ (lebih dari 76 μg/m3).

Jika sensor menilai kontaminasi melebihi 36 μg/m3, air-cleaning system otomatis beroperasi. Volume udara langsung diposisikan antara tingkat 3-8 kemudian mode semburan berpindah ke air-recirculation. Berikut juga mengaktifkan pendingin untuk mengurangi kelembaban interior. Andai kualitas tidak kunjung membaik, ia mengingatkan pengguna agar segera mengganti filter atau membersihkan jok dan karpet.

Ketiga teknologi anyar ini akan disematkan pada beberapa model teranyar Hyundai di Korea. Baru setelah itu, digencarkan pula keluar kandang. Dikabarkan Kia dan Genesis ikut dibekali teknologi serupa di masa mendatang. (Krm/Odi)

Baca Juga: Hyundai Santa Fe Pakai Baju N Performance Parts Bikin Pangling

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store