Regulasi Emisi Kian Ketat, Bagaimana Nasib Mesin Diesel Tanah Air?

Regulasi Emisi Kian Ketat, Bagaimana Nasib Mesin Diesel Tanah Air?

Regulasi emisi kian ketat. Pemerintah Indonesia pun memberi sinyal, mengarah pada visi era elektrifikasi. Untuk perspektif kendaraan penumpang, mungkin bukan hal sulit mencapai itu. Namun lain halnya bagi kendaraan komersial. Mesin diesel masih menjadi primadona dan dianggap praktis untuk memenuhi kebutuhan niaga. Lantas, akankah regulasi dengan cepat mematikan kejayaan mesin diesel?


“Kalau dilihat dari sudut pandang Isuzu Indonesia, butuh proses. Sekarang itu kami masih menggunakan teknologi Euro 2 – yang baru mau beralih ke Euro 4. Sementara di Eropa, sudah duluan Euro 4, Euro 5, bahkan ada bahan bakar yang disebut B100 atau SVO, bisa mengimbangi ambang batas regulasi Euro 6. Jadi, di Indonesia perjalanannya masih sangat panjang, hingga mesin diesel sampai di titik discontinue,” kata Harmoko Setyawan, Head Department Prototype and Test Department, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (6/3).


Ia meyakini usia mesin diesel tak akan dihapus secepat itu. Meski tren EV makin gencar, untuk kendaraan komersial pasti dibedakan. Menurutnya belum ada desain truk atau bus elektrik reliable. Atau setidaknya bisa mengimbangi kekuatan dan kepraktisan mesin diesel. Karena itulah, potensi ke depan masih dianggap besar.


Baca juga: Truk Listrik Mitsubishi Fuso eCanter Goda Calon Konsumen di GIICOMVEC 2020


Hal ini turut diyakini oleh Armein Effendy, Marketing Support & Logistic Manager PT Wahana Inti Selaras, distributor resmi Volvo Buses. Di kesempatan berbeda, ia mengaku tak risau soal basis mesin diesel. Sama seperti Harmoko, Armein juga menganggap potensinya masih panjang. Belum ada teknologi elektrik yang dapat mengimbangi kepraktisan maupun kekuatan diesel.


“Melihat teknologi dan infrastruktur yang ada, menurut kami hingga kini belum ada solusi. Bus elektrik misalnya, itu paling hanya bisa menempuh jarak 400 km. Sementara pengisian daya membutuhkan waktu paling tidak 6 jam. Di sisi lain, saat mengisi solar, cukup 10 menit saja – bisa jalan sampai 400 km juga. Penumpang mana mau menunggu 6 jam? Karena itu, potensi diesel kami rasa masih punya masa depan panjang, khususnya untuk komersial,” kata Armein (5/03).


Walau begitu, Armein tak menampik visi Volvo nantinya mengarah ke elektrifikasi. Bahkan tak perlu melalui era BBG (Bahan Bakar Gas) terlebih dulu. Karena dianggap tanggung jika ingin mengurangi emisi.


“Visi ke depan kami, memang menggunakan tenaga listrik nantinya. Tidak perlu BBG. Volvo kelihatannya belum konsentrasi ke sana. Agak tanggung. Lebih baik sekalian zero emission. Tapi balik lagi, di Tanah Air ada gap dengan di Eropa prosesnya. Bahkan baru beberapa negara saja di sana yang membatasi penjualan diesel. Jadi sejauh ini, tetap potensi diesel masih besar. Proses ke sana membutuhkan waktu,” tutup Armein. (Hlm/Ano)


Baca juga: Hino Kenalkan Teknologi Telematic untuk Efisiensi Operasional

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store