jakarta-selatan

First Drive Mercedes-Benz Axor 3340 S (Part-2): Ketangguhan Melahap Medan Off-Road

  • 19 Mei, 2019
  • 2503 Kali Dilihat

Arena tempat pengujian truk merupakan tempat uji coba kendaraan tempur milik Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav), TNI Angkatan Darat di Padalarang. Tentu medan yang disiapkan lebih dari cukup untuk sekadar kendaraan niaga. 90% kawasan uji didominasi jalan tanah. Tanjakan dan turunan curam menanti. Beberapa titik pun cukup sempit. Pas untuk dilalui satu truk saja. Makanya, pihak Mercedes-Benz truk menilai kelayakan mengemudi kami dulu sebelum masuk medan berat. Jika terlihat ragu-ragu dan membahayakan, harus rela duduk sebagai penumpang saja. Kami cukup tertantang dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.



Sebelum mulai menguji Mercedes-Benz Axor 3340 S, ada pembekalan pemahaman safety driving dan kode etik mengemudi truk. Ini dipaparkan Adjit, Chief Instructure Professional Defensive Driving Course DCVI. “Pertama, wajib menggunakan sepatu supaya tidak licin. Mengingat kebanyakan medan tanah, sangat bahaya jika menggunakan sendal. Lalu saat memasuki truk, pijak footstep yang sudah tersedia. Jangan malah bertumpu pada baut pelek. Ini kebiasaan buruk yang sering dilakukan para pengemudi. Padahal berbahaya. Nah, saat sudah menginjak footstep. Biasakan bertumpu dengan dua tangan dan satu kaki atau dua kaki dengan satu tangan. Sudah tersedia tulang besi yang bisa digenggam. Jika sudah duduk, atur posisi senyaman dan seergonomis mungkin.


Jangan terlalu mundur duduknya. Jangkauan tangan pada kemudi harus pas. Begitupun kaki yang mesti bisa mengakses semua pedal. Safety belt juga dipakai. Terakhir, saat ingin menstarter bunyikan klakson panjang satu kali. Begitu hendak melaju, bunyikan lagi dua kali. Dan ketika ingin mundur, bunyikan lagi tiga kali. Ini untuk memberi tanda pada sekitar. Maklum, blind spotnya cukup banyak. Hati-hati saat mengemudikannya.”


Sudah tak sabar, kami langsung menaikinya. Tentu tak sendirian. Imam Nugroho selaku technical support dan Aan mewakili Professional Defensive Driving Course DCVI, menemani selama pengujian. Maksudnya untuk memandu prosedur dan meminimalisir risiko jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Medannya cukup berat jika tak biasa mengemudikan truk


Setelah mengatur posisi, tak lama kami menekan klakson sekali dan segera menyalakannya. Tanpa basa basi, tuas gear yang berada di kanan (mirip posisi lampu sein) kami tekan. Klakson lagi dua kali dan truk pun melaju.


Visibilitasnya sangat baik. Kaca depan, samping dan spion superbesar, sangat menunjang pandangan ke sekitar. Namun perlu diakui, karena tinggi sulit  melihat kendaraan atau benda yang lebih pendek dari truk. Untungnya, keadaan jalan steril.  


Pertama kami masih melalui jalur tanah dan aspal yang lebar. Tak ada keluhan dari pemandu, malah dipersilakan memacunya di jalan lurus. Jelas saja, kami tergoda. Pedal gas kami injak agak dalam dan ya, torsi melimpah benar-benar terasa. Perpindahan gigi memang agak lemot tapi masih dalam kadar normal. Selain mode otomatis, bisa juga dioperasikan manual. Konversinya dengan menekan tombol di dashboard. Setelah itu tinggal atur dari tuas sesuka hati. Saat dicoba, pastinya mode ini lebih membantu saat menanjak.  



Trek lurusnya tak terlalu panjang. Makanya, ada satu fitur yang tak sempat dicoba. Yakni cruise control yang bisa diaktifkan mulai 15kpj. Tapi ya sudahlah, masih banyak yang bisa diexplore. Sembari berbincang santai dan menikmati pemandangan sawah yang dilalui, Imam menjelaskan peruntukan truk ini. “Sebetulnya, spesialisasinya untuk aspal dan menarik trailer. Tapi banyak dari unitnya juga dioperasikan pada area tambang atau hutan yang notabene jalan tanah dan curam.”


Singkat cerita, sampailah kami di jalan agak menurun. Ada fitur pengaturan engine brake dua level guna menahan beban. Tapi rasanya belum perlu. Kami terus melaju tanpa bantuan itu. Dengan hanya mengandalkan rem dan posisi gear yang kami biarkan otomatis, tak terasa gejala merosot sama sekali.Ternyata transmisinya cukup pintar membaca kebutuhan.


Jalanan semakin sempit dan berguncang. Jujur, hal ini tak kami sadari. Rasanya biasa saja seperti mengemudikan mobil pada umumnya. Walau guncangannya terasa, tapi jok pneumatic mampu mengobati. Alhasil, kontrol kemudi tak terganggu. Saat melalui penyempitan dan tikungan, mereka mengingatkan bahwa dimensinya besar. Bisa-bisa bagian belakang terperosok ke sawah. Ya, kami memang terlalu percaya diri memacunya. Sampai lupa dimensinya besar. Tapi sama sekali tak khawatir, karena pantauannya luas.


Akhirnya, tibalah momen menarik. Sebuah turunan curam dengan tanah yang tak terlalu padat sudah di depan mata. Hanya berjarak beberapa meter, langsung dilanjut tanjakan ekstrem. Di sini baru merasa perlu mengaktifkan fitur engine brake. Setelan level dua langsung kami pakai. Truk mulai menukik. Yang kami kaget, tiba-tiba rpmnya naik drastis beberapa detik. Sontak kaki menginjak pedal rem dalam yang sedikit menggesek ban ke tanah. Ternyata, memang begitu kerjanya. Maksud dari putaran tinggi untuk mengisi angin pada fitur penahannya.


Nah, selesai itu fitur engine brake dimatikan. Bersiap ke tanjakan ekstrem, kami lupa mengaktifkan differential lock. Dengan agak bernafsu, pedal gas diinjak dalam dan malah selip di tengah tanjakan. “Harusnya santai saja menekan gasnya,” ujar Aan. Ya, kami terlalu excited. Tuas dipindahkan ke gigi mundur. “Ini gunanya ada gigi mundur empat speed. Di medan ekstrem sangat membantu.” Tambahnya.


Untuk jaga-jaga, differential lock inter whell dan axle diaktifkan melalui tombol. Tanpa usaha besar, akhirnya rintangan tadi dilalui mulus. Sayangnya, medan berat itu jadi yang terakhir. Sisanya hanya jalur off-road yang cenderung rata.


Di akhir ada tikungan sedikit menurun dengan sudut belokan tajam. Surprisingly, radius putarnya tergolong baik. Di atas kertas, ia mencatat angka 8.300mm untuk memutar balik. Sampai ke pos finish, truk diharuskan melalui jalan beton yang miring dulu. Awalnya kami cukup ragu. Di kabin terasa sangat miring. Namun ternyata tak sedikitpun ada gejala merosot. Menurut Imam, “Ini berkat wheeltrack yang panjang sehingga kemungkinan roll over terminimalisir.”


Setelah hampir setengah jam menguji. Kami kembali berbincang di dalam truk sambil menanyakan alat yang ada di atas head unit. Ternyata namanya TCO, perangkat itu untuk merekam aktifitas sopir selama 24 jam. Mulai dari kecepatan, delay time, stop and go braking dan sebagainya. Sistem kerjanya mirip black box pada pesawat. Namun media perekamnya masih berbentuk kertas berupa grafik. Karena sudah tak ada yang ingin ditanyakan, kamipun mengakhiri rangkaian uji coba ini.   


Simpulan


Menurut kami, tenaga dan torsinya sangat besar dan sanggup membawa truk dengan baik di medan berat. Selain itu, fitur engine brake dua level terasa mantap untuk menukik di turunan curam. Begitupun differential lock inter-wheel dan inter-axle. Pastinya membuat percaya diri.  


Transmisi semi-otomatisnya memang agak lemot. Tapi masih cukup pintar membaca kebutuhan manuver. Adanya teknologi ini, sangat membantu pengemudi agar lebih nyaman tanpa perlu repot menginjak kopling. Mengingat kendaraan seperti ini bakal melalui perjalanan panjang. Toh kalaupun benar-benar membutuhkan kontrol penuh, bisa dioperasikan secara manual juga.


Sebetulnya, lebih afdol jika pengujian sambil membawa muatan. Karena di lapangan, semuanya pasti membawa trailer. Sehingga kemampuannya bisa ditranslasikan lebih valid. Tapi kami paham, hal itu agak sulit dilakukan. Terlepas itu, dalam keadaan kosong Axor 3340 S cukup layak dijadikan opsi kendaraan niaga Anda. Sayang, kami belum juga diberi informasi harga jualnya.


Baca Part 1 di Sini

Galeri

kali dibagikan

Truk Mitsubishi Pilihan

  • Komparasi