jakarta-selatan

First Drive Mercedes-Benz Axor 3340 S AMT (Part-1): Sensasi Truk Fuso FZ Berlogo Mercy

  • 19 Mei, 2019
  • 2851 Kali Dilihat

Beberapa hari lalu, PT Daimler Commercial vehicle Indonesia (DVCI) mengundang kami untuk mencoba langsung Mercedes-Benz Axor, truk jagoan mereka. Disediakan tiga varian sekaligus. Seri 2528 (6x4) mewakili jenis dump truck, dan dua tractor head diwakili 4028 T (4x2) serta 3340 S (6x4) AMT. Sebetulnya, dibolehkan untuk mencoba seluruh varian. Namun karena banyaknya jumlah peserta, waktunya jadi terbatas.


Kami memantapkan pilihan pada 3340 S, sang penarik trailer. Mengapa? Ini satu-satunya yang bertransmisi otomatis. Selain itu, kapasitas mesin beserta output dan daya angkutnya yang terbesar. Namun benarkah sinergi mesin besar dan teknologi transmisi lemot itu sanggup membawanya di medan off-road? Sebelum masuk ke ulasan, berikut poin penting yang dimiliki oleh Axor 3340 S.


Mesin


Tepat di bawah kepalanya, tertanam jantung pacu berkode OM 457 LA. Berkonfigurasi enam silinder segaris, dengan kubikasi sebesar 12-liter. Di atas kertas, mesin diesel ini mencatat tenaga sebesar 401PS di 1.900rpm dan torsi 2.000Nm yang sangat instan pada 1.100rpm. Itulah salah satu yang membuat kami tertarik.



Selain itu, penyaluran dayanya mengandalkan Automated Manual Transmission (AMT). Sama dengan transmisi manual, masih menggunakan kopling kering. Namun, saat perpindahannya dikerjakan oleh motor elektrik. Singkat kata, gearbox manual yang diotomatiskan. Kekurangan dari model rangkaian ini, jeda shifting agak lemot. Walaupun, risiko gear selip terminimalisir. Dilengkapi dengan 12-percepatan (maju) dan 4-percepatan (mundur).


Eksterior


Dimensi total (PxLxT) 6.900mm x 2.490mm x 3.362mm. Bongsor sekali kan? Tapi tak sepanjang versi dump truck yang mencapai tujuh meter. Karena peruntukannya menarik trailer, bukan mengangkut muatan di atas sasis sepenuhnya.  


Desain jajaran Axor sebetulnya mirip-mirip. Antarvarian hanya dibedakan pada warna bumper dan grille. Unit yang kami coba, memiliki grille hitam dan bumper putih sewarna bodi. Di setiap sisi, dipasangkan over fender dengan laburan hitam. Berkat aksesori ini, nampak lekukan yang membuat kesan berotot. Untuk pencahayaannya, headlamp dan stoplampnya sudah LED. Adapun DRL yang mengalur sejajar. Tapi tunggu dulu, dapatkah Anda mengenali truk dengan bentuk serupa?


Interior


Kabin memiliki desain identik dengan kembarannya, Fuso FZ Series. Imam Nugroho, Technical Support DCVI menjelaskan ini “Saham mayoritas Fuso itu sudah lama dibeli Daimler. Saat masih prototipe pun, DNAnya berasal dari Mercedes-Benz. Tapi dipasarkan dengan bendera Mitsubishi. Seiring berjalannya waktu, market share Fuso kurang baik. Makanya di 2017, direbadge dengan lambang bintang. Khusus di Indonesia, keran penjualan Fuso FZ Series ini mulai diperkecil karena sudah ditake over.”


Menurut kami, embel-embel premium Mercedes-benz bahkan tak terasa. Dashboard, door trim, dan di berbagai titik terbuat dari material sangat sederhana. Yang berbeda dari saudaranya, dashboard tengah dan kokpit dipasangi aksesori panel kayu yang berbahan plastik. Sisanya, sama persis.


Jok dilapis bahan fabric yang kami rasa kurang empuk. Namun, berkat suspensi pneumatic di kolong jok, guncangan bisa teredam baik. Pengaturannya juga lengkap. Dari mulai ketinggian, reclining, maju mundur. Semuanya bisa diatur. Begitupun lingkar kemudi. Sudah dilengkapi fitur tilt dan teleskopik.


Menunjang perjalanan jauh, peranti pemanja seperti cruise control, AC, head unit sudah menjadi standar. Panel instrumen juga perpaduan digital analog dengan informasi yang lengkap. Speedometer dan takometer ditunjukkan jarum mekanik. Sedangkan di tengahnya MID. Sayang, belum ada Traction Control.  


Kaki-kaki


Varian ini memiliki angka Gross Combination Weight GCW paling besar di antara yang lain, 65 ton. Sedangkan Gross Vehicle Weightnya (GVW) 33,5 ton. Selain mesin, tentu saja kapasitas bobot ini perlu didukung penggerak yang kuat. Makanya dibekali differential lock inter wheel dan inter axle yang dioperasikan melalui tombol. Sistem ini bekerja di roda belakang dan tengah. Makanya disebut 6x4.



Untuk menahan lajunya, rem teromol full air S-Cam dual circuit sudah dilengkapi sensor ABS di roda terdepan dan paling belakang. Guna memaksimalkan pengendalian dan meredam guncangan, di depan mengadaptasi suspensi parabolic dengan shock absorber dan stabilizer. Sedangkan di belakang, tandem bogie dengan shock absorber.


Bersambung ke part 2.

Galeri

kali dibagikan

Truk Mitsubishi Pilihan

  • Komparasi