IIMS 2022: Suzuki Yakini Industri Motor Bensin Masih Populer Dibanding Listrik, untuk Saat Ini

IIMS 2022: Suzuki Yakini Industri Motor Bensin Masih Populer Dibanding Listrik, untuk Saat Ini

Ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2022 seolah menjadi batu loncatan bagi industri otomotif untuk beralih ke era elektrifikasi. Mobil listrik pertama produksi Indonesia, Hyundai Ioniq 5, dijual. Bahkan mobil legendaris seperti Kijang pun, mejeng dengan teknologi niremisi ditemani ragam kendaraan roda empat lainnya yang turut memeriahkan.

KEY TAKEAWAYS

  • Suzuki sudah berdiri bersama Honda, Kawasaki, Yamaha, Piaggio dan KTM dalam konsorsium baterai swappable.

    Dengan kesepakatan tersebut, baterai yang dipakai pun jadi seragam dan bisa diganti antar motor dengan mudah.
  • Begitu pun dengan Suzuki. Mereka memajang platform mobil Smart Hybrid terbarunya. Sebuah konsep elektrifikasi dengan pendekatan hibrida yang unik. Nampaknya sengatan listrik di skena kendaraan roda empat lebih bisa diandalkan untuk penggunaannya dibanding sepeda motor.

    Teuku Agha, 2W Sales & Marketing Department Head PT Suzuki Indomobil Sales, mengakui hal itu. "Untuk sepeda motor, kami melihatnya, dengan kondisi geografis indonesia dan infrastruktur yang seperti saat ini, teknologi bahan bakar lebih bisa diandalkan," jelasnya dalam konferensi pers di Kemayoran, Jakarta, Jumat (9/4),

    Honda PCX Electric

    Hal ini tentu cukup logis. Teknologi baterai yang ada, masih belum bisa memberikan nilai setara atau sebaik motor konvensional. Dari segi jarak tempuh, infrastruktur swap maupun keseragaman baterai, hingga nilai ekonomis dari baterai itu sendiri belum bisa memberikan kenyamanan bagi pengguna di Indonesia.

    Kapasitas baterai dengan materi paling baik saat ini, (lithium), belum bisa memberikan jarak tempuh sebanding dengan tangki bensin konvensional. Pengecasan pun demikian, belum ada teknologi yang memungkinkan pengecasan dalam waktu singkat seperti mengisi tangki. Metode swap atau menukar baterai memang solutif, bahkan lebih cepat dibanding isi bensin. Namun hal ini membutuhkan keseragaman baterai dari mayoritas produsen, agar infrastruktur penukaran baterai bisa mudah dirangkai.

    Melihat contoh yang ditunjukkan brand besar seperti Honda dan Yamaha saja, mereka nampak sangat berhati-hati dengan langkah elektrifikasi. Honda, hanya merilis PCX Electric dengan skema berlangganan atau sewa. Yamaha pun demikian, motor elektrik E01 masih dalam tahap studi untuk melihat ketertarikan publik. Di pasar global, kuda besi penyedot listrik itu pun hanya direntalkan.

    baterai Honda PCX electric

    Metode rental/sewa/berlangganan memang dinilai beberapa pabrikan lebih menjanjikan daripada menjualnya. Hal ini lantaran motor dengan kemampuan demikian tak akan masuk secara ekonomi ke masyarakat. Harganya bisa terlampau mahal untuk dijual, dan potensi serapannya malah jadi rendah. Lagi-lagi, teknologi secanggih itu memang masih terlalu mahal.

    Perspektif itu berbanding jauh dengan yang dilakukan brand kecil seperti Niu, Gesits, Volta hingga Energica. Mereka nampak mencoba beragam pendekatan untuk memajukan konsep elektrifikasi sebagai moda transportasi roda dua. Aneka tipe dan jenis motor bertenaga listrik dijual ke masyarakat di tengah perhelatan IIMS. Harganya tentu beragam dan yang kami lihat, teknologinya masih belum bisa diandalkan untuk mengharap kemampuan yang setara dengan kebutuhan sebagian besar masyarakat.

    Sebagai pabrikan besar, Suzuki memang perlu berhati-hati dengan strateginya. Taruhannya sangat tinggi, reputasi nama baik yang sudah dijaga puluhan tahun. Meyakini bahwa teknologi yang disepakati berasal dari kebutuhan masyarakat dan didukung dengan infrastruktur baik pengecasan maupun penukaran baterai yang mapan, adalah perspektifnya.

    NIU Gova 05

    Untuk diketahui, di kancah global, Suzuki sendiri sudah berdiri bersama Honda, Kawasaki, Yamaha, Piaggio dan KTM dalam konsorsium baterai swappable. Dengan kesepakatan tersebut, baterai yang dipakai pun jadi seragam dan bisa diganti antar motor dengan mudah. Tentunya, begitu minat masyarakat Indonesia akan motor listrik kian tumbuh, menanti penerapannya di Tanah Air, bukanlah hal yang mustahil.

    Namun untuk saat ini, masih motor bermesin konvensional yang lebih bisa diandalkan untuk beraktifitas. Begitu kata Suzuki. (VAN/RS)

    Baca juga: Percepat Era Kendaraan Listrik, PLN dan Grab Berkolaborasi Bangun Stasiun Tukar Baterai di Jakarta

    GIIAS 2022

    Anda mungkin juga tertarik

    • Yang Akan Datang

    Video Motor Terbaru di Oto

    Oto
    Tonton Video Motor

    Artikel Motor dari Zigwheels

    • Motovaganza
    • Tips
    • Review
    • Artikel Feature