Esemka Membuka Pemesanan Secara Online Walau Belum Memiliki Jaringan Diler

Esemka Membuka Pemesanan Secara Online Walau Belum Memiliki Jaringan Diler

Sejumlah produsen berusaha mempertahankan penjualan mobil kala pandemi Covid-19. Fokusnya dengan memanfaatkan sistem daring. Langkah ini dilakukan pula oleh PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) dalam menjajakan barang dagangannya. Jika ada yang tertarik untuk melakukan pemesanan. Caranya tinggal mengisi data diri secara lengkap di website resmi persuahaan.

Kini mereka hanya menjual dua model saja: Bima 1,2 liter dan Bima 1,3 liter. "Jika ada keterangannya, berarti benar bisa pesan secara online," jelas Sabar Boedhi, Humas PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) seperti dilansir kolega OTO.com, Liputan6 (23/9).

Menurut dia, cara ini dinilai cukup efektif demi menjaring berbagai calon pelanggan dari penjuru nusantara. Menyoal jaringan pemasaran, Sabar menekankan itu di luar tanggung jawab manufaktur. "Kalau diler itu kan bukan ranah dari PT SMK, sudah menjadi sayap meskipun ada koordinasinya dengan kami manufacturing. Sementara ini, diler berasal dari PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH). Dan ada satu lagi pihak dilernya. Pelebaran jaringan pemasaran bagian mereka," ia menerangkan.

Beredar kabar soal keberadaan diler Esemka yang beralamat di komplek pabrik perakitan. Tepatnya di Demangan Industrial Zone, Jalan Raya Demangan Km 3,5 Sambi, Boyolali, Jawa tengah. Namun, lokasi ini belum dioperasikan secara resmi.

esemka bima

Esemka Bima Hasil Rebadge Merek Cina atau Bukan?

Esemka terus menjadi topik utama bahasan. Khususnya unit pikap Bima, mirip dengan Changan Star Truck. Beberapa waktu lalu, Eddy Wirajaya, Presiden Direktur PT Esemka, bilang kalau Esemka bukanlah barang rebadge. Atau unit yang sekadar ganti logo dari pabrikan Cina. Lalu muncul diskusi kecil soal komponen lokal dari Kemenperin, Gaikindo dan asosiasi pendukung.

Baca juga: Kinerja Semeter II Diyakini Positif, Bagaimana Neraca Perdagangan Otomotif Nasional?

Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin memberi tanggapan. Meski tak menjabarkan lebih perinci status Esemka, tapi ia sedikit memberi kata kunci. "Yang saya tangkap, Esemka itu membeli desain terputus. Dan banyak dilakukan (pabrikan lain). Sehingga prinsipal mempunyai kewenangan penuh untuk mengembangkan rancangan selanjutnya, maupun menggunakan komponen melalui multisourcing. Jadi tidak ada batasan untuk mengembangkan komponen yang sudah disediakan dan diproduksi Esemka. Juga dari Pikko (Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif)," paparnya di Graha BNI beberapa waktu lalu.

Lokal Konten

Untuk diketahui, Esemka mengklaim total komponen dalam negeri (TKDN) Bima sebesar 60 persen, tanpa memberi detail komposisi penyusun. Sekadar gambaran dari produk lain, TDKN pada Kijang Innova mencapai 85 persen. Persentase true local content sebesar 25 persen, yang semua dilakukan di dalam negeri. Sementara local content Innova di angka 60 persen. Part itu tetap dibuat, dirakit dan diproduksi di Indonesia. Tapi materialnya bisa diambil dari negara lain. Dan inilah teka-teki Esemka.

Gaikindo juga merespons proses pembuatan Esemka sebagai hal lazim terjadi di industri otomotif. Tapi tak menjelaskan apakah rancang bangun itu milik sendiri atau mengambil dari pabrikan lain. "Misal sebuah perusahaan ingin melakukan rebadge merek A, dari pabrikan lain. Nah si pemilik berhak menentukan. Dan itu terjadi sudah lama. Misal saya pernah di General Motors. Waktu itu daftarnya Chevrolet, namun kebijakan korporasi menginginkan pakai merek Opel Blazer. Padahal yang dikenal Chevrolet Blazer. Saya rasa begitu gambarannya dan bagian dari industri otomotif Indonesia," terang Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gabungan Industri Otomotif Indonesia.

Presiden Joko Widodo dengan Esemka Bima

Jenis kendaraan niaga ini, lanjut Putu, menggunakan fasilitas perakitan part by part. Maksudnya, dirakit dengan komponen yang dibutuhkan dan didatangkan dari berbagai perusahaan. Baik dalam maupun luar negeri. “Yang jelas, Esemka ini bukan CKD (completely knock-down). Bukan juga IKD (Incompletely knock-down). Kalau CKD, mobil utuh diurai, dibawa ke sini dan dirakit. Bukan IKD juga, karena ada kewajiban konten lokal lebih tinggi. Perusahaan melakukan part by part, maka impor tidak besar. Jika dilihat dari sisi manufaktur, mulai dari CBU, CKD, IKD dan part by part prosesnya semakin mendalam," imbuh dia.

Penyedia Komponen

Sedangkan dari Pikko, sudah ada 12 perusahaan yang siap suplai komponen. Lalu 13 perusahaan lain datang dari Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM). Semuanya mewakili bagian metal, plastik, karet, interior serta kebutuhan lainnya. “Kalau pemerintah mendukung, kami pun mendorong sebagai prinsipal (pabrikan) baru di Indonesia. Esemka bahkan sudah melakukan studi ke beberapa pabrik kami sejak awal 2019. Lalu pada Juli dan Agustus baru difasilitasi pemerintah untuk bertemu lagi,” ucap Rosalina Faried, Ketua Pikko.

Adapun PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) menginformasikan beberapa komponen lokal yang sudah digunakan. Misal tangki BBM dari PT INKA, kaca depan buatan Armada Inda Agung Glass, Sasis disokong PT INKA, blok mesin dan transmisi bikinan Cikarang Perkasa Manufacturing dan shockbreaker oleh Indospring.

Lalu untuk radiator disuplai oleh PT Tokyo Radiator Selamat Sempurna, brake shoes dari PT Pasindo, engine mounting UD Adi Surya Gemilang, dasbor dan steer wheel PT Usra Tampi dan blok mesin plus blok transmisi PT Cikarang Perkasa manufacturing. Melakukan rebadge bukanlah aib bagi pabrikan otomotif. Hal ini lumrah terjadi bahkan menjadi tren untuk menambah line-up produk. Problemnya, tidak ada informasi atau pengakuan langsung dari pabrikan. (Alx/Tom)

Sumber quote: Liputan6

Baca juga: Digital Marketing Jadi Solusi Melumasi Sendi Industri Otomotif Nasional Kala Pandemi

      • Overview
      • Tentang Kami
      • Kontak Kami
      • Others
      • Kebijakan Privasi
      • S&K
      • Dapatkan di Google Play
      • Tersedia di App Store